Hari ini tepat tanggal 17 Desember 2011, merupakan hari kelahiran Soe Hok Gie yang ke-69 tahun. Hari dimana sang demonstran lahir, hari dimana 17 Desember 1942 sosok manusia luar biasa dan penuh inspirasi untuk orang orang di sekitarnya muncul ke permukaaan.
Gue, salah satu atau sebagian kecil dari ribuan bahkan mungkin jutaan pengagum Gie. Awalnya gue gatau Gie siapa, gue gatau apa peran beliau buat negara. Gue gatau apa apa soal beliau. Padahal gue tau sendiri, tiap Imlek atau ada moment peringatan lain film GIE kan selalu di setel di tv kan. Gue pikir itu film soal orang China kebanyakan atau Tionghoa.
Ternyata sekarang gue jadi penggila berat beliau. Penggila berat. Semua buku, bahkan ada kertas brosur dari UI yang ada namanya gue simpen, gue pajang di kaca meja belajar. Gue kecanduan.
Bang Yopin adalah pihak yang mempertemukan gue sama buku Catatan Seorang Demonstran yang udah ga dijual dan emang susah banget nyarinya. Makasih bang! \m/
Showing posts with label Soe Hok Gie. Show all posts
Showing posts with label Soe Hok Gie. Show all posts
20111217
20111007
Sebuah Tanya
akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku
(kabut tipis pun turun pelan pelan
di lembah kasih, lembah Mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat
(lampu lampu berkelipan di jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(haripun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan kenangan dan harapan harapan
bersama hidup yang begitu biru
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku
(kabut tipis pun turun pelan pelan
di lembah kasih, lembah Mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat
(lampu lampu berkelipan di jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(haripun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan kenangan dan harapan harapan
bersama hidup yang begitu biru
Selasa, 1 April 1969
-Soe Hok-gie
Label:
3019,
Gunung,
Hiking,
Kangen,
Mandalawangi,
Mandalawangi. Pangrango. Hiking,
Random,
Soe Hok Gie
Saya mimpi tentang sebuah dunia,
Dimana ulama - buruh dan pemuda,
Bangkit dan berkata - Stop semua kemunafikan,
Stop semua pembunuhan atas nama apapun.
Dan para politisi di PBB,
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras,
Buat anak anak yang lapar di tiga benua,
Dan lupa akan diplomasi.
Tak adalagi rasa benci pada siapapun,
Agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun,
Dan melupakan perang dan kebencian,
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Tuhan - Saya mimpi tentang dunia tadi,
Yang tak pernah akan datang.
Dimana ulama - buruh dan pemuda,
Bangkit dan berkata - Stop semua kemunafikan,
Stop semua pembunuhan atas nama apapun.
Dan para politisi di PBB,
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras,
Buat anak anak yang lapar di tiga benua,
Dan lupa akan diplomasi.
Tak adalagi rasa benci pada siapapun,
Agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun,
Dan melupakan perang dan kebencian,
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Tuhan - Saya mimpi tentang dunia tadi,
Yang tak pernah akan datang.
Salem, 29 Oktober 1968
-Soe Hok-gie
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga bunga yang manis di lembah Mandalawangi.
Ada serdadu serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satupun setan yang tahu.
Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa apa, kita tak 'kan pernah kehilangan apa apa.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga bunga yang manis di lembah Mandalawangi.
Ada serdadu serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satupun setan yang tahu.
Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa apa, kita tak 'kan pernah kehilangan apa apa.
Selasa, 11 November 1969
-Soe Hok-gie
Label:
3019,
Gunung,
Kangen,
Mandalawangi,
Mandalawangi. Pangrango. Hiking,
Random,
Soe Hok Gie
Subscribe to:
Posts (Atom)