Showing posts with label 3019. Show all posts
Showing posts with label 3019. Show all posts

20111217

42 Tahun Perginya Soe Hok Gie & Idhan Lubis

Hari ini tepat tanggal 17 Desember 2011, merupakan hari kelahiran Soe Hok Gie yang ke-69 tahun. Hari dimana sang demonstran lahir, hari dimana 17 Desember 1942 sosok manusia luar biasa dan penuh inspirasi untuk orang orang di sekitarnya muncul ke permukaaan.

Gue, salah satu atau sebagian kecil dari ribuan bahkan mungkin jutaan pengagum Gie. Awalnya gue gatau Gie siapa, gue gatau apa peran beliau buat negara. Gue gatau apa apa soal beliau. Padahal gue tau sendiri, tiap Imlek atau ada moment peringatan lain film GIE kan selalu di setel di tv  kan. Gue pikir itu film soal orang China kebanyakan atau Tionghoa.

Ternyata sekarang gue jadi penggila berat beliau. Penggila berat. Semua buku, bahkan ada kertas brosur dari UI yang ada namanya gue simpen, gue pajang di kaca meja belajar. Gue kecanduan.
Bang Yopin adalah pihak yang mempertemukan gue sama buku Catatan Seorang Demonstran yang udah ga dijual dan emang susah banget nyarinya. Makasih bang! \m/

20111007

Sebuah Tanya

akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan pelan
di lembah kasih, lembah Mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat

(lampu lampu berkelipan di jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(haripun  menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan kenangan dan harapan harapan
bersama hidup yang begitu biru

Selasa, 1 April 1969
-Soe Hok-gie
Saya mimpi tentang sebuah dunia,
Dimana ulama - buruh dan pemuda,
Bangkit dan berkata - Stop semua kemunafikan,
Stop semua pembunuhan atas nama apapun.

Dan para politisi di PBB,
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras,
Buat anak anak yang lapar di tiga benua,
Dan lupa akan diplomasi.

Tak adalagi rasa benci pada siapapun,
Agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun,

Dan melupakan perang dan kebencian,
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Tuhan -  Saya mimpi tentang dunia tadi,
Yang tak pernah akan datang.

Salem, 29 Oktober 1968
-Soe Hok-gie
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga bunga yang manis di lembah Mandalawangi.

Ada serdadu serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi bayi yang mati lapar di Biafra.

Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satupun setan yang tahu.

Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa apa, kita tak 'kan pernah kehilangan apa apa.

Selasa, 11 November 1969
-Soe Hok-gie

20111006

Mandalawangi

"Mandalawangi yang dikagumi Soe adalah sebuah lembah yang landai. Alasnya berumput lembut. Di atas alas rumput itu tumbuh beribu ribu pohon bunga edelweiss yang tingginya rata-rata satu meter. Pada pertengahan Desember itu edelweiss tidak berbunga, tetapi konon pada bulan Mei atau Juni lembah landai itu menjadi lebih indah karena bunga bunga edelweiss dan lainnya. Sedangkan daun edelweiss yang runcing keputih putihan itupun dari kejauhan sudah merupakan keindahan tersendiri. Di kaki lembah, ada sungai jernih yang mengalir. Dan jauh di sekeliling lembah, terdapat pohon pohon besar yang membatasi jurang.
Di tempat itu, abu Soe Hok Gie kemudian ditaburkan. Pada saat abu yang dibungkus kantong plastik dan anyaman tikar dibuka, ke-35 orang di Mandalawangi itu pada menelentangkan telapak tangan mereka di muka dada. Satu satu, telapak tangan itu diisi dengan abu tulang Soe yang putih kecoklat coklatan dan abu abu. Setelah di atasnya ditaburi bunga, abu ditaburkan ke segala penjuru lembah ke arah yang mereka suka. Ada yang ke tepi jurang. Ada yang ke semak semak edelweiss, ke dekat sumber air di ujung lembah ataupun rumput rumputan. Abu Soe ditaburkan tanpa bekas." Hlm: 96-97 (Soe Hok-Gie...sekali lagi)
Mandalawangi-Pangrango

Sendja ini. ketika matahari turun
ke dalam djurang djurangmu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbitjara
tentang manfaat dan guna
aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan
menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
dan bitjara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian,
menghadapi jang tanda tanja
tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah, dan hadapilah"

dan antara ransel ransel kosong
dan api unggun jang membara
aku terima itu semua
melampaui batas batas hutanmu
melampaui batas batas djurangmu
aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanian hidup

Djakarta 19-7-1966
Soe Hok-gie

20110916

3019

Ini waktu gue nanjak Gunung Pangrango (3019mdpl) 13-16 Mei 2011 bareng Ujan, Ang, Oji, Genta, Arief, sama Tommy. Foto fotonya taken by Ujan sama Genta, yang lainnya koleksi pribadi sama Mbah Google ;)
Ada 6 pintu masuk ke kawasan TNGGP: Cibodas, Gunung Putri, Bodogol, Cisarua, Selabintana dan Situgunung. Nah gue dkk itu lewat pintu Cibodas. Jadi gue jelasin dulu ya rutenya, jadi dari pintu masuk Cibodas itu gue dkk udah ada di ketinggian 1250mdpl, medannya ga berat berat banget sih batu batu gitu yang udah rapi kesusun (pas awal awal -_-) hati hati pas musim hujan, ini licin banget, gue aja waktu itu jatoh karena kepeleset puluhan kali T.T
Pos Penjagaan – Telaga Biru = 20 menit
Telaga Biru – Pos Panyancangan = 30 menit
Pos Panyancangan – Air Panas / Pemandangan = 2 jam
Air Panas – Kandang Batu = 20 menit
Kandang Batu – Kandang Badak = 1 – 1,5 jam
Dari Kandang Badak ada 2 puncak yang bisa dituju
a. Kandang Badak – Puncak Gede = 1,5 – 2 jam
b. Kandang Badak – Puncak Pangrango = 2 – 3 jam
Itu perhitungan waktu ga akurat juga kok, jadi makin lama dan makin sering lu istirahat/berhenti ya makin lama nyampenya. Nah karena gue mau ke Pangrango, jadi dari Kandang Badak itu ada pertigaan, kanan itu ke Pangrango, kiri itu ke Gede, jadi gue belok kanan. Nah dari situ jalur setan dimulai!

 
Peta Pendakian Wastu foto waktu gue berlima (Wastu, Ang, Wegit, Qmonk, Gue)  ke Cibereum, sayang, kali ini dia ga ikut. (Cie sayang)

Ini nih puncak Pangrango difoto dari Puncak Gunung Gede sesuatu banget yah sempurna.

Gerbang selamat datang ini juga gue fotonya udah lama banget.