Showing posts with label Mandalawangi. Show all posts
Showing posts with label Mandalawangi. Show all posts

20111007

Sebuah Tanya

akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan pelan
di lembah kasih, lembah Mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat

(lampu lampu berkelipan di jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(haripun  menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan kenangan dan harapan harapan
bersama hidup yang begitu biru

Selasa, 1 April 1969
-Soe Hok-gie
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga bunga yang manis di lembah Mandalawangi.

Ada serdadu serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi bayi yang mati lapar di Biafra.

Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satupun setan yang tahu.

Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa apa, kita tak 'kan pernah kehilangan apa apa.

Selasa, 11 November 1969
-Soe Hok-gie

20111006

Mandalawangi

"Mandalawangi yang dikagumi Soe adalah sebuah lembah yang landai. Alasnya berumput lembut. Di atas alas rumput itu tumbuh beribu ribu pohon bunga edelweiss yang tingginya rata-rata satu meter. Pada pertengahan Desember itu edelweiss tidak berbunga, tetapi konon pada bulan Mei atau Juni lembah landai itu menjadi lebih indah karena bunga bunga edelweiss dan lainnya. Sedangkan daun edelweiss yang runcing keputih putihan itupun dari kejauhan sudah merupakan keindahan tersendiri. Di kaki lembah, ada sungai jernih yang mengalir. Dan jauh di sekeliling lembah, terdapat pohon pohon besar yang membatasi jurang.
Di tempat itu, abu Soe Hok Gie kemudian ditaburkan. Pada saat abu yang dibungkus kantong plastik dan anyaman tikar dibuka, ke-35 orang di Mandalawangi itu pada menelentangkan telapak tangan mereka di muka dada. Satu satu, telapak tangan itu diisi dengan abu tulang Soe yang putih kecoklat coklatan dan abu abu. Setelah di atasnya ditaburi bunga, abu ditaburkan ke segala penjuru lembah ke arah yang mereka suka. Ada yang ke tepi jurang. Ada yang ke semak semak edelweiss, ke dekat sumber air di ujung lembah ataupun rumput rumputan. Abu Soe ditaburkan tanpa bekas." Hlm: 96-97 (Soe Hok-Gie...sekali lagi)
Mandalawangi-Pangrango

Sendja ini. ketika matahari turun
ke dalam djurang djurangmu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbitjara
tentang manfaat dan guna
aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan
menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
dan bitjara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian,
menghadapi jang tanda tanja
tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah, dan hadapilah"

dan antara ransel ransel kosong
dan api unggun jang membara
aku terima itu semua
melampaui batas batas hutanmu
melampaui batas batas djurangmu
aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanian hidup

Djakarta 19-7-1966
Soe Hok-gie

20110922

Name

Pas gue lagi buka facebook terus liat notification-nya, gue baru sadar ternyata gue add kak Ola terus kak Ola accept fb gue.



Gue baru sadar namanya Aurelia Flora Mandalawangi. WAW. Mandalawangi bay. Akhirnya langsung gue wall -_-

Ternyata bener kan setelah gue tanya ternyata ada sangkut pautnya sama Pangrango. Aih fyi, Mandalawangi yang udah gue ceritain di postingan gue sebelumnya itu lembah sunyi di puncak Pangrango. The best recommended banget bangetan deh pokoknya! Buat lu semua yang belum pernah ke Pangrango patut dicoba \m/
Soe Hok Gie suka banget sama tempat ini, emang bener bener sunyi sepi enak buat sendirian enak buat merenung (baca: galau) tapi jangan berlebihan juga ya bisa kesambet nanti -_-

Bulan Maret tahun lalu gue sampe udah bikin nama anak gue. Niat -_-
Kalo anak gue cowok mau gue kasih nama: Rinjani Tjakrawala Tridasatya kalo cewek: Sheera Shefra Nabilia Khaylannisa.
Rinjani itu gunung paling indah se-Indonesia. Gue mau banget deh kesana, tapi belum kesampean -_- cuma bisa liat lewat adzan RCTI. Makasih banget nih pihak RCTI tau aja spot bagus dimana u,u
Itu gue ga asal asalan kok bikinnya, Tjakrawala itu kan matahari, sumber cahaya, nah nanti gue mau anak gue ntar jadi 'cahaya' buat orang sekitarnya. Tridasatya, Tri itu tiga, dasa itu 10. Maksudnya gue bikin nama itu bulan Maret 2010 -_- nah tya-nya itu gue tambahin sendiri hhh, abis kalo cuma Tridasa garing -_-
Kalo Nabilia itu artinya keturunan ningrat HAHAHA itu gue liat di buku arti nama waktu gue ke Gramedia, terus Sheera Shefra-nya gue lupa artinya apa. Khaylannisa-nya itu maksudnya, Khayla itu gue ambil dari Khayalan, Annisa itu artinya perempuan. Jadi artinya, Anak perempuan keturunan ningrat yang jadi khayalan -_- random!

20110916

3019

Ini waktu gue nanjak Gunung Pangrango (3019mdpl) 13-16 Mei 2011 bareng Ujan, Ang, Oji, Genta, Arief, sama Tommy. Foto fotonya taken by Ujan sama Genta, yang lainnya koleksi pribadi sama Mbah Google ;)
Ada 6 pintu masuk ke kawasan TNGGP: Cibodas, Gunung Putri, Bodogol, Cisarua, Selabintana dan Situgunung. Nah gue dkk itu lewat pintu Cibodas. Jadi gue jelasin dulu ya rutenya, jadi dari pintu masuk Cibodas itu gue dkk udah ada di ketinggian 1250mdpl, medannya ga berat berat banget sih batu batu gitu yang udah rapi kesusun (pas awal awal -_-) hati hati pas musim hujan, ini licin banget, gue aja waktu itu jatoh karena kepeleset puluhan kali T.T
Pos Penjagaan – Telaga Biru = 20 menit
Telaga Biru – Pos Panyancangan = 30 menit
Pos Panyancangan – Air Panas / Pemandangan = 2 jam
Air Panas – Kandang Batu = 20 menit
Kandang Batu – Kandang Badak = 1 – 1,5 jam
Dari Kandang Badak ada 2 puncak yang bisa dituju
a. Kandang Badak – Puncak Gede = 1,5 – 2 jam
b. Kandang Badak – Puncak Pangrango = 2 – 3 jam
Itu perhitungan waktu ga akurat juga kok, jadi makin lama dan makin sering lu istirahat/berhenti ya makin lama nyampenya. Nah karena gue mau ke Pangrango, jadi dari Kandang Badak itu ada pertigaan, kanan itu ke Pangrango, kiri itu ke Gede, jadi gue belok kanan. Nah dari situ jalur setan dimulai!

 
Peta Pendakian Wastu foto waktu gue berlima (Wastu, Ang, Wegit, Qmonk, Gue)  ke Cibereum, sayang, kali ini dia ga ikut. (Cie sayang)

Ini nih puncak Pangrango difoto dari Puncak Gunung Gede sesuatu banget yah sempurna.

Gerbang selamat datang ini juga gue fotonya udah lama banget.